“ Aku Ida Bukan Dia”

            Sosok manis itu masih berjalan di bawah rintihan hujan yang tak kunjung reda. Walau seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Sungguh ia tak peduli lagi, biarlah kedua orang tuanya kembali memarahinya. Telinganya seakan-akan sudah terbiasa dengan omelan-omelan itu, ditambah lagi maslah sekolah yang tak henti-hentinya melanda. Arrgggghhh….. ingin rasnya ia lupa ingatan saja. Melupakan semua yang terjadi dalam hidupnya. Tak di sangka, air dari bola matanya yang bulat nan indah menetes, ia menangis.                                                        “Aku tak berguna, semua apa yang aku lakukan seakan-akan tak berguna lagi di mata semua orang. Mengapa semua menyalahkanku? Ini kemampuanku dan aku memang tak bisa menjadi apa yang mereka mau. Haruskah aku menuruti segala apa yang mereka inginkan dariku?” Tak disadari, bibirnya mengeluarkan kalimat itu.    Tibalah ia didepan pintu rumahnya, di ruana tamu telah menunggu kedua sosok yang sangat di patuhinya, dua tokoh utama dalam hidupnya yang seolah-olah telah menjadi baginda raja dan ratu dalam kerajaan hidupnya. Masih dengan pakaiannya yang telah bash kuyup akibat hujan saat di jalan tadi, ia memberanikan diri untuk masuk.

“Ass… Ida pulang!” Ucapnya lemah.

“Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang, dengan keadaan basah pula, dasar anak tak mau di untung! Di nasehatin berkali-kali tak mau di gubris,” Spontan tangan dingin ayahnya menampar pipi rapuhnya itu.

“Kamu sangat berbeda dengan kakakmu, kakakmu penurut, pulang tepat waktu, prestasi di sekolahnyapun tak sedikit. Kamu apa? Hanya bisa pergi jalan-jalan kesana kemari tak ada manfaat. Menghabiskan uang, prestasi yang kamu raihpun tidak ada yang pantas di banggakan. Mulai sekarang ayah melarang kamu keluar rumah, kecuali untuk pergi sekolah. Ayahpun akan mengantar dan menjemputmu di sekolah, ngerti?” Marah ayahnya semakin menjadi.

Ia menangis lagi, isaknya tak tertahankan. Sedangkan sosok ibu yang ia harapkan untuk membelanya beranjak dari tempat itu. Kembali ia merasa sendiri.

“Ayah, Ida sudah berusaha untuk mendapatkan prestasi di sekolah. Ida sudah belajar dengan sungguh-sungguh tapi apalah daya Ida ayah. Siswa pintar di kelas Ida tidak Cuma satu, keadaan sekolah Ida dan kakakpun berbeda ayah.” Ia berusaha membela dirinya sebdiri di depan sosok ayahnya tersebut, masih dengan isakan tangisnya.

“Sudah, itu Cuma alasanmu saja. Bilang saja kamu sudah malas untuk bersekolah. Lekas ganti pakaianmu itu dan belajar. Satu lagi, tinggalkan semua organisasi yang telah kamu ikuti, bisa jadi itulah pemicu kelakuanmu yang seperti ini.” Ucap ayahnya.

Di kamarnya ia menangis, menangis akan ucapan ayahnya kepada dirinya, menagis akan ketidak pedulian ibunya kepada dirinya. Tangisnya tak tertahankan lagi. Iapun bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan sholat. Memohon ketenangan hati dan jiwanya yang tengah rapuh, memohon petunjuk akan masalah yang ia hadapi, ia kembali menangis dalam sujudnya, sungguh hikmat suasana malam itu.

***

            Pagi di sekolah sebelum jam pelajaran di mulai, sosok Ida hari ini lain dari biasanya. Ia lebih memilih sendiri ketimbang berkumpul sekedar berdiskusi dengan teman kelasnya. Biasanya juga dia paling aktif berdiskusi, tapi hari ini sungguh keadaan yang sangat kontras. Seorang temannyapun menghampiri, “Ada apa lagi Da? Tumben-tumbennya sendiri seperti ini, ada masalah lagi?”

“Ayahku,,” Ucapnya lirih.

“Masalah itu lagi?” Langsung saja temannya mengatakan itu, karena ia sudah tahu apa yang terjadi dengan Ida. Karena bukan hanya kali ini saja masalah seperti ini menimppa dirinya.

Anggukan pelan dari sosok Ida seakan-akan menjadi jawaban pertanyaan itu.

“Sudah, nggak usah kamu pikirkan lagi. Dia seperti itu karena ia belum bisa memposisikan dirinya sebagai dirimu. Aku juga merasa iba padamu, seolah-olah kamu ini robot, yang bisa mereka jalankan seenaknya. Sekarang saatnya kamu menjalankan tugasmu sebagi sosok Ida yang sebenarnya, jalani hidupmu. Lambat laun mereka pasti mengerti, bahwa prestasi ada bukan semata-mata untuk di banggakan. Kamu Ida, bukan dia kakakmu. Ok?” Kata-kata penyemangat dari temannya keluar semata-mata karena ia sayang kepada Ida dan ia tidak ingin Ida terlihat terpuruk seperti ini.

“ Terima kasih sobat, akanku buktikan bahwa AKU IDA, BUKAN DIA KAKAKKU!” Sedikit senyum menghiasi rona wajahnya yang sedih.

Batinnya menggumam,”Secercah harapan, sejuta impian telah menatiku. Inilah awal yang menantang untuk perjalanan hidupku.”Hilda

**********************************

(keterangan foto: Dianti bersama Hilda)